5 Strategi Menang Hybrid Fitness Racing

Dalam hybrid fitness racing, kemenangan jarang ditentukan oleh kekuatan maksimum atau kecepatan lari semata. Atlet terbaik adalah mereka yang mampu mengelola tenaga, menjaga ritme, dan mempertahankan performa dari awal hingga tuntasnya kompetisi.

Hybrid fitness racing adalah ujian strategi, bukan adu ego!

Berikut 5 strategi paling realistis yang digunakan atlet pro, diikuti 5 kesalahan umum yang kerapkali merusak performa.

1. Kuasai Pacing Sejak Segmen Awal

Strategi terpenting dalam hybrid fitness racing adalah pacing yang disiplin. Banyak atlet tampil kuat di awal lomba, tetapi justeru kehabisan ‘bensin’ saat memasuki segmen berikutnya.

Sementara, atlet yang menang biasanya menahan intensitas pada 20-30% awal lomba, menjaga denyut jantung tetap terkendali, agar kapasitas kerja fisik dapat dipertahankan hingga akhir.

2. Prioritaskan Strength Endurance, Bukan Max Strength

Hybrid fitness racing jarang menguji one-rep max. Yang diuji itu kemampuan mengangkat beban menengah dalam kondisi lelah.

Program latihan hybrid fitness yang efektif menempatkan Squat, Deadlift, Carry, dan Press dalam volume yang meniru tuntutan lomba. Jadi, bukan sekadar mengejar angka angkatan tertinggi.

3. Minimalkan Transisi dan Wasted Movement

Waktu sering hilang bukan saat latihan utama, melainkan di transisi antar segmen. Atlet perlu melatih kebiasaan bergerak efisien, dari saat lomba berbasis cardio hingga masuk ke station beban.

Setiap gerakan ekstra, langkah tidak perlu, atau setup ulang yang lambat akan terakumulasi menjadi selisih waktu yang signifikan. Singkirkan waster movement!

4. Biasakan Latihan dengan Alat Gym Kompetisi

Rower, Ski Erg, Sled, dan atau Kettlebell yang digunakan pada kompetisi memiliki karakteristik tertentu. Nah, atlet serius akan selalu membiasakan diri berlatih dengan alat yang menyerupai standar kompetisi hybrid fitness racing sebenarnya.

Rekomen: Ini Dia MAGNUS Skier Lokal Berkualitas Global!

Latihan adaptif pada alat tersebut akan meningkatkan efisiensi gerak dan mengurangi kejutan teknis saat hari-H.

5. Kelola Recovery dan Tapering dengan Disiplin

Kemenangan justeru sering ditentukan sebelum kompetisi dimulai! Atlet hybrid fitness yang cerdas menjalani tapering, tidur cukup, dan asupan nutrisi yang tepat, akan tiba di garis start dalam kondisi segar dan ‘siap meledak’.

Terkait: Tapering and Peaking: 2 Fase Vital Menuju Kompetisi

Sedangkan, latihan keras terlalu dekat dengan hari kompetisi, itu hampir selalu berdampak negatif.

Kesalahan Umum dalam Hybrid Fitness Racing

Sub-bahasan ini menambahkan sekaligus merangkum artikel menarik ini dengan sejumlah kesalahan umum yang berpotensi dilakukan atlet sebelum dan saat kompetisi – sejumlah kesalahan yang tidak boleh dilakukan!

1. Overpacing di Awal Lomba

Memulai terlalu cepat demi posisi awal, malah sering berujung penurunan performa drastis di pertengahan jalan.

2. Mengandalkan Ego Angkatan

Memaksakan beban di atas kapasitas lomba, itu cuma membuang energi. Hindari!

3. Mengabaikan Transisi

Transisi yang lambat bisa menghapus keunggulan fisik yang sudah dibangun.

4. Kurang Familiar dengan Alat

Tidak terbiasa dengan rower atau ski erg kompetisi menyebabkan gerakan yang boros energi. Hadiri technical meeting. Cobalah alat gym yang akan digunakan jika telah tersedia, atau beradaptasi cepat dengannya beberapa saat sebelum kompetisi dimulai.

5. Latihan Terlalu Keras Menjelang Lomba

Tanpa tapering yang tepat, tubuh datang ke lomba dalam kondisi yang sudah sangat lelah.

Penutup

Menang di hybrid fitness racing, bukan soal siapa paling kuat atau paling cepat, tetapi siapa yang paling efisien, disiplin, dan konsisten.

Hanya dengan strategi pacing yang matang, fokus pada strength endurance, adaptasi alat, serta manajemen recovery yang tepat, atlet hybrid fitness memiliki peluang nyata untuk tampil optimal di arena lomba, dan menang!

Magnus Fitness
Magnus Fitness