8 Perbedaan Crossfit dan Gym

Perbedaan Crossfit dan Gym bisa dibilang mencolok. Padahal, kedua olahraga ini berjalan berdampingan di awal kemunculan Crossfit pada 2000-an silam.

Tak lama setelah eksis, Greg Glassman, penemu Crossfit, dengan tegas membuat batas perbedaan yang mencolok bagi keduanya. Misalnya, istilah Crossfit Box dipopulerkan untuk ‘memisahkan diri’ dari stigmatisasi Gym; kurikulum latihan juga disusun, yang semakin mempertegas perbedaan itu.

Nah, apa lagi perbedaan yang lain? Perbedaan Crossfit dan Gym yang mencolok itu akan diurai semuanya di sini, tuntas!

Perbedaan Crossfit dan Gym, Mencolok

Secara umum, inilah 8 Perbedaan Crossfit dan Gym, ditinjau dari berbagai sisi.

1. Konsep Berbeda

Perbedaan Crossfit dan Gym yang pertama adalah pada konsepnya!

Crossfit adalah metode pelatihan terprogram yang dipraktikkan dalam kombinasi berbagai gerakan dan bentuk latihan dari berbagai olahraga yang sudah ada sebelumnya, seperti gerakan senam (gimnastik), bersepeda, lari, berenang, angkat beban (weightlifting), dll.

Singkatnya, Crossfit melatih aerobik (pernapasan dan peredaran darah), sekaligus anaerobik (kekuatan fisik).

Sedangkan Gym, adalah latihan olah tubuh (body building) dengan sejumlah bentuk latihan pembentukan massa otot, baik pada area tubuh tertentu, dan atau gabungan beberapa bagian otot sekaligus.

Kendatipun ada warming up di awal, dan peregangan di akhir sesi latihan di Gym, dengan menggunakan sepeda statis ataupun treadmill, tapi porsi olah pernapasan tersebut hanya sebatas itu. Strength training adalah fundamental, sekaligus yang utama pada Gym.

Perbedaan Crossfit dan Gym berikut, lebih mencolok lagi:

2. Kurikulum vs Preferensi Sendiri

Ya, yang sangat mencolok dari Perbedaan Crossfit dan Gym, ada pada bagian ini.

Tak lama setelah berdiri, Glassman membuat kurikulum Crossfit, yang berwujud metode (menu) latihan apa yang mesti dilakukan ketika seorang Crossfitter visit ke Crossfit Box. Menu latihan harian itu dikenal dengan sebutan: WOD (Workout of the Day).

Semua peserta Crossfit akan melakukan WOD tersebut (dengan sejumlah istilah latihan yang unik), dengan cara latihan yang sama. Kadang, hanya berbeda pada jumlah Reps dan Set-nya, dan berat beban yang diangkat – hal ini untuk mengakomodir member dengan kondisi kebugaran dan tujuan tertentu – misalnya, jika ia seorang atlet yang akan berlomba di Crossfit Games, atau tim militer yang mendapatkan misi khusus, maka porsi latihan akan jauh lebih berat.

Sedangkan pada Gym, tidak mengenal kurikulum yang diterapkan seragam semacam itu. Orang bisa datang ke Gym dengan kondisi kebugaran apapun. Sepanjang biaya keanggotaan sudah dibayar untuk durasi tertentu, ia sudah bisa berlatih dengan alat apapun, dan dengan cara yang diketahuinya.

3. Fokus Latihan Berbeda

Perbedaan Crossfit dan Gym berikutnya, yakni pada fokus latihannya yang berbeda.

Kendatipun dalam praktiknya, olahraga Crossfit, juga kadang mengisolasi latihan pada otot tertentu (seperti jump box, yang melatih otot kaki dan keseimbangan), namun  secara umum, semua bagian tubuh bergerak (dilatih) pada saat bersamaan.

Jadi, fokus Crossfit melatih sebuah gerakan, mendatangkan manfaat bagi keseluruhan tubuh.

Sedangkan pada Gym, latihan terfokus pada satu atau beberapa bagian otot tubuh saja, yang dilakukan terus menerus hingga massa otot bertambah pada area itu, dan postur ideal tercapai.

4. Grup vs Individu

Di Crossfit Gym, para Crossfitter (atau kadang disebut juga dengan “atlet”), bergabung dalam satu grup. Semua menu WOD hari itu, dilakukan bersama-sama. Sisi positif dari ini, yaitu saling memotivasi antara satu dengan yang lain; ada semangat kompetitif yang positif.

Sedangkan pada Gym, semua yang datang terkonsentrasi melatih dirinya sendiri. Bahkan, caranya membentuk suatu otot dengan peralatan gym yang ada, bisa jadi berbeda satu sama lain.

Jikapun ada kelompok yang berlatih bersama, itu sangatlah jarang. Latihan pun dilakukan dengan cara mereka, bukan mengikuti menu (program) latihan harian yang sudah dibuat sebelumnya.

Sangat mencolok bukan perbedaan Crossfit dan Gym…– yang satu pendekatan latihannya, grup – yang lainnya, lebih individual.

5. Dengan Pelatih vs Hanya Individu

Salah satu yang mencolok dari perbedaan Crossfit dan Gym, yaitu yang satu dengan pelatih, sedangkan yang lainnya tidak.

Di Box, latihan dipimpin oleh seorang pelatih. Kendatipun WOD sudah terpampang di papan tulis, yakni melakukan gerakan “Karen” misalnya, yang sudah familiar bagi Crossfitters, keberadaan pelatih tetap ada – memonitor latihan – mengoreksi dan mengevaluasi sejauh mana latihan tersebut dilakukan, sudah benarkah atau masih belum tepat eksekusinya.

Eksistensi pelatih dalam Crossfit meminimalkan, bahkan menihilkan gerakan yang salah, yang bisa berakibat cedera serius.

Pada Gym, sangat jarang ada pelatih yang mengawasi. Dulu, sekian waktu saya berlatih di Gym, hanya sekali saja saya diperhatikan oleh seorang pelatih. Dia mengoreksi cara saya menggunakan sebuah alat gym. Itu saja.

Memang, kalau seorang member gym meminta ada pelatih khusus baginya, pengelola gym akan menyediakannya. Tapi tentu, dengan harga membership yang berbeda.    

6. Intensitas Tinggi, Preferensi Pribadi

Berolahraga Crossfit, berarti siap melatih diri dengan latihan berintensitas tinggi. Meskipun, olahraga Crossfit memperagakan latihan-latihan fungsional (gerakan sehari-hari), namun intensitasnya tinggi, alias terdapat banyak repetisi pada semua jenis latihan.

Bentuk latihan tidak melulu lari (dengan treadmill), menempuh jarak ratusan kilometer. Tetapi, dikombinasikan dengan gerakan lain, seperti push-up sekian Set. Wall Ball (melempar bola ke salah satu tiang dalam ruangan) sekian Set pula. Dilanjutkan dengan Jump Box beberapa Set, dan lalu berlari lagi ratusan kilometer.

Crossfit workout semacam itulah yang membuat intensitas olahraga ini tinggi sekali.

Lain halnya dengan Gym, latihan berfokus pada pembentukan massa otot di setidaknya 5 area otot pada tubuh – tujuan itu dicapai dengan latihan yang terfokus pada satu area otot terlebih dahulu, misalnya latihan otot punggung yang dikenal dengan Bent Over Row (BOR).

Si bodybuilder atau Powerlifter akan melakukan BOR guna menstimulus otot punggung, sekaligus sedikit kontraksi pada biceps dan paha belakangnya, dengan Reps dan Set tertentu yang dipahaminya selama ini, dan atau menurut preferensinya pribadi. Kendatipun, latihan berikutnya bisa diarahkan pada otot core atau yang lainnya, tapi fokus awalnya tetap pada otot punggung yang belum terbentuk ideal tadi.

Terkait ini, dalam dunia Fitness, ada pula yang disebut dengan Compound Exercises, yaitu latihan yang langsung menstimulus sekaligus kelompok otot dan sendi. Tapi, berapa banyak Reps dan Set-nya merupakan standard umum, atau sekali lagi, adalah preferensi pribadi. 

Singkatnya, tinggi atau tidak intensitasnya, bergantung pada si bodybuilder-nya.   

7. Warehouse vs Mewah

Satu lagi Perbedaan Crossfit dan Gym yang cukup mencolok, yakni pada bentuk dan kondisi tempat latihannya.

Di Box, khususnya yang berada di AS dan Eropa, tempat latihan yang disebut dengan beberapa istilah: Crossfit Gym, Crossfit Box, dan Box, lebih tampak seperti warehouse (gudang).

Ya, seperti gudang! Ada rangka besi berukuran besar di plafon, dan tiang-tiang besi kokoh terlihat jelas menopang bangunan di sana sini. Tiang-tiang tersebut ada fungsinya untuk jenis WOD tertentu.

Ada banyak box (pylo) tampak tersusun. Ada ban mobil dan traktor. Ada tali kapal di lantai dan yang menggantung. Dan, berbagai Crossfit Equipment lainnya, yang sejumlah di antaranya terdapat pula di Gym – suasana Box tampak luas, dan bentuk bangunannya, umumnya terlihat seperti persegipanjang.

Lihat juga: Paket Alat Fitness untuk Memenuhi Kebutuhan Anda

Sedangkan di Gym, umumnya tampak lebih bersih, teratur, dan so pasti mewah. Size tidak seluas dan selega Box. Dan, sudah pasti dipenuhi dengan berbagai alat fitness, yang memakan setidaknya 70% dari total ruangan.     

8. Tujuan Akhir Berbeda

Di bagian akhir dari perbedaan Crossfit dan Gym ini, terdapat satu persamaan mendasar. Apa itu?

Terlepas dari tujuan pribadi, pada Crossfit Box, partisipan datang berolahraga untuk mencapai tingkat kekuatan ideal bagi dirinya, full bugar, dan berujung pada optimalnya melakukan segala gerakan fungsional yang ditemuinya sehari-hari (berjongkok, melompat, mendorong, menarik, dll).

Pada sebagian Crossfitter, tak hanya sebatas itu. Mereka berupaya mencapai ‘kondisi tertinggi’ dari olahraga Crossfit, yaitu menembus batas kemampuannya – berusaha keras mencapai strength fitness di atas rata-rata.

Di AS, Crossfitter golongan itu, biasanya melibatkan diri dalam Crossfit Games yang dilakukan dari tingkat lokal Box di region tertentu. Dan, jika menang terus, lanjut sampai tahap olimpiade, dimana para atlet Crossfit sedunia memperebutkan status sebagai Fittest on Earth (Orang terkuat di bumi).

Dari sekian banyak perbedaan Crossfit dan Gym, saya kira ada persamaan mendasar dari berolahraga Crossfit dan latihan fitness di Gym, yaitu: Strength Fitness – baik atlet Crossfit, maupun powerlifter, sama-sama ingin memperoleh tingkat kekuatan fisik yang diinginkannya. Sebab, kalau sudah “kuat”, gerakan/latihan dan fungsionalitas apapun itu bentuknya dapat ‘dilahap’ jauh lebih mudah. Bukankah begitu…?

Kesimpulan

Dari sekian banyak perbedaan Crossfit dan Gym yang mencolok di atas, kita tiba pada pertanyaan klasik: Mana yang terbaik, Crossfit atau Gym?

Jawabannya sederhana: Depends on you. Tergantung pada masing-masing. Sebab, goals pribadi orang berolahraga berbeda satu sama lain. Anda yang tahu goal-nya, maka anda pula yang lebih tahu mana yang terbaik untuk ditekuni mencapai tujuan.

Magnus Fitness
Magnus Fitness